Kamis, 04 Oktober 2012

Sejarah Perkembangan Agama Buddha di Srilanka


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Dengan belajar agama Budha kemudian timbullah dorongan untuk menghayati dan mengamalkan ajaran agama Budha. Sejarah perkembangan agama budha di dunia ini sangat penting bagi setiap manusia. Karena minat setiap manusia kurang mengenai sejarah dalam keingintahuan tentang perkembangan agama Budha di dunia. Agama budha yang secara historis dan filosofistelah menjadi bagian dari peradaban dunia yang nilai-nilai filsafati, budaya, politis, dan yang berkaitan dengan perkembangan dunia secara local maupun global telah mendarah daging menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perubahan dan perkembangan suatu bangsa, khusus di Sri Lanka.
Sejarah perkembangan agama Buddha di Ceylon dimulai antara abad ke-3 SM sampai abad ke-10 M. perkembangan agama Budha di Sri Lanka, dibawa oleh bhikkhu Thera Mahendra dan bhikkhuni Sanghamita atas perintah ayahnya yaitu maharaja Asoka guna menyeberkan agama Budha. Menurut ahli arkeolog, agama budha bukan hanya berkembang baik di Sri Lanka tetapi juga di Thailand, dan Burma. Dalam perkembangan agama buddha banyak negara-negara yang memiliki penduduk mayoritas beragama Buddha. Perkembangan agama Buddha di Indonesia sekarang ini sudah menyebar dari sabang sampai merauke.


BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Perkembangan Agama Budha di Sri Lanka

A.       Agama Buddha di Sri Lanka
Perkembangan Agama Buddha ke Sri lanka diawali dengan pemerintahan Raja  Asoka di India pada abad ke 3 SM. Masuknya Agama Buddha ke Sri Lanka diawali dengan hubungan persahabatan antara Raja Asoka dengan Raja Devanampiya Tissa. Secara resmi masuknya Agama Buddha ke Sri Lanka dimulai dengan datangnya sekelompok Bhikkhu yang dipimpin oleh Bhikkhu Mahinda yang merupakan putra Raja Asoka. Ketika ratu Anula dan sejumlah wanita menginginkan menerima upasampada pabajja, karena pada waktu itu di Ceylon belum ada bhikkhuni sementara Vinya melarang seorang bhikkhu menasbihkan seorang bhikkhuni, Sanghamitra (adik perempuan Mahendra) dikirim ke Ceylon oleh ayahnya raja Asoka.

Ada dua peristiwa penting yang terjadi di Ceylon yang berkaitan dengan agama Budha, yakni penanaman cangkokan pohon bodhi dari Bodhi Gaya, dan dipindahkannya relik gigi Sang Budha dari India ke Ceylon. Dalam kitab Mahavamsa menyebutkan bahwa suatu stupa agung dibangun pada masa pemerintahan raja Dutthagamanu (101-77 SM). Pemerintahan raja Vattagamani (29-17 SM) pernah terjadi sangha samaya ke-IVdi Aluvihara, dimanna pada waktu itu berkumpul 500 Bhikkhu arahat yang hasilnya menuliskan kitab suci Tipitaka di atas daun lontar.
Sejarah agama Budha di Ceylon kita pada waktu sekarang mengetahui bahwa kitab-kitab agama Budha  di Ceylon berasal dari india. Ceylon bukan bersikap pasif sebagai penerima agama Budha, melainkan juga aktif dengan menyumbang perkembangan agama Budha melalui kitab-kitab atthakatha (komentar). Kitab-kitab atthakatha yang ditulis dalam bahasa Sinhala itu mempunyai nilai sangat penting. Hal ini terlihat dari banyaknya bhikhu dari daratan India ke Ceylon pada abad awal masehi untuk mempelajarinya.
Meskipun kitab-kitab komentar ditulisbdalam bahasa Sinhala, namun bahasa Pali tetap merupakan bahasa agama Budha di Ceylon. Pada abad ke-5 tersebut, dimana Budhaghosa ditahbiskan sebagai bhikkhu di Both Gaya oleh Mahasthavira Revata tetap berpegang teguh pada bahasa Pali.
B.        Sumber-Sumber Sejarah
Sumber-sumber pokok sejarah agama Budha di Ceylon terdiri dari:
a.    Kitab-kitab agama
b.      Maklumat raja Asoka
c.       Inskripsi dari Ceylon
d.      Kitab-kitab pali
e.       Kitab-kitab komentar pali
f.       Cerita-cerita rakyat
g.      Mahabodhi Vamsa, Dathavamsa, Nikayasangraha, Pujavaliya.

C.       Keadaan Social Budaya Sebelum Kedatangan Agama Buddha
Umumnya perukiman penduKduk di Sri lanka sebelum kedatangan agama buddha adalah di kampung, mata pencaharian penduduk adalah pertanian tetapi selain pertanian perindustrian di Sri Lanka juga berkembang. Kitab suci Tripitaka di tulis di Sri Lanka. Dari Ceylonlah agama Buddha aliran Theravada mulai menyebar ke Asia Tenggara. Dalam sejarah agama Buddha di Ceylon, aliran Theravada sampai tiga kali harus diperbaharui dikarenakan adanya desakan dari agama Hindu dan aliran Mantrayana, yaitu pada abad ke-11; abad ke-15;dan pada abad ke-18.
Pada masa pemerintahan Raja Tissa, Vihāra Mahāvihāra dibangun sebagai lembaga dan pusat ajaran Buddha Theravāda. Setelah Raja Tissa wafat (207 SM), Ceylon dikuasai dan diperintah oleh bangsa Tamil sampai munculnya keturunan Raja Tissa, Dutthagāmaī (101-77 SM), berhasil menumbangkan kekuasaan Raja Elara dari Tamil. Sejak itu hingga sekarang, sebagai bangsa Tamil, di Ceylon terjadi persaingan antara ajaran Buddha dan nasionalisme Sinhala.
Pada masa pemerintahan Raja Kittisiri Rajaseha (1747-­1781), peraturan tentang ajaran, kepercayaan dan aliran (sekte) diperbaharui kembali oleh bhikkhu yang diundang dari Thailand. Kedatangan bhikkhu Myanmar dan Thailand yang berperan dalam pembaharuan ajaran Buddha telah mendorong sangha terkelompok-kelompok di Ceylon. Meskipun sangha tetap berpegang pada Tipitaka yang sama, namun masing-masing berbeda dalam menafsirkan dan melaksanakan Vinaya.
Aliran-aliran agama Buddha di Ceylon dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Siam Nikaya berdiri abad 18, merupakan kelompok konsevatif yang kebanyakan anggotanya berasal dari kalangan bangsawan.
2. Amarapura berdiri abad 19, anggotanya berasal dari berbagai kalangan masyarakat.
3. Ramanna, yang merupakan pecahan dari kelompok Siam Nikaya.


BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Perkembangan agama Buddha tidak bisa lepas dari usaha-usaha Dharmaduta-Dharmaduta yang berjuang keras dalam mengembangkan agama Buddha. Raja Asoka termasuk salah satu raja yang aktif dalam mengembangkan agama Buddha dengan mengirimkan Dharmadutanya ke berbagai penjuru dunia. Dalam perkembangannya agama Buddha menjumpai tidak sedikit halangan termasuk dari berbagai agama bahkan dari aliran-aliran agama Buddha sendiri demi untuk kepentingan mereka pribadi.
Agama Buddha mengalami kemunduran di India yang merupakan tempat lahirnya Agama Buddha, dikarenakan mulai kembalinya pengaruh dari agama Brahma dan terpecahnya agama Buddha menjadi beberapa aliran atau sekte yang saling mempertahankan pendapatnya dan kitab yang digunakannya.


DAFTAR PUSTAKA

1 komentar: